June 2012
71 posts
Di pagi yang cerah, seorang anak sedang menonton film dokumenter di komputer keluarga. Komputer keluarga? Ya keluarga itu tidak memiliki TV, karena pada zaman itu sangat susah untuk memilih tayangan TV yang tepat untuk ditonton anak-anak. Film dokumenter yang diputar di komputer itu memang sengaja dipilihkan Bapak dari sang anak untuk ditonton bersama-sama. Dan sederetan film-film dokumenter lainnya yang menarik, memberikan rasa ingin tahu, memberikan pengetahuan, dan pelajaran spiritual juga sudah disiapkan oleh sang ayah dan sudah dipilihkan berdasarkan review tontonannya sendiri dan hasil browsing di internet. Semua daftar film yang ada di komputer keluarga telah habis ditonton sang bapak sebelumnya. Namun begitu, sang bapak tetap menemani anaknya dan dengan selalu ada diskusi-diskusi yang menarik dari hasil rasa ingin tahu yang sangat tinggi dari sang anak. Maklum, secara teori memang anak umur 2-5 tahun akan banyak sekali mengajukan pertanyaan dalam satu harinya.
Tak hanya itu, sederetan buku-buku juga sudah disiapkan untuk bahan bacaan anaknya. Setiap minggu sang bapak membeli beberapa buku, membacanya semalaman dan memilihkan anaknya buku yang sesuai, yang menginspirasi tetapi tidak menggurui dan yang memberikan ilmu pengetahuan tetapi tidak kaku dan membosankan.
“Pa, aku mau ke tempat itu dong!” kata anak, saat film dokumenter itu memutar bagian keindahan Sungai Amazon dan hutan-hutannya. Pada zaman itu memang suatu hal yang langka melihat hutan yang masih asri, bahkan di negerinya sendiri pun yang beberapa puluh tahun sebelumnya disebut zamrud khatulistiwa kini telah jarang dijumpai hutan yang masih asri. Ini adalah akibat kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sementara di belahan dunia lain orang mati-matian mengembangkan teknologi conditional weather untuk mempertahankan hutannya serta disiapkannya kanal-kanal khusus hujan buatan karena lapisan atmosfer yang semakin buruk untuk kelangsungan hutan, sementara di negeri sendiri banyak yang anti terhadap teknologi. Ya.. walaupun atmosfernya masih bagus, cuaca pun masih mendukung tapi kurangnya pengetahuan dan kebodohan telah menyia-nyiakan pemberian Tuhan.
“Wah kamu mau ke sana ya?” timpal Bapaknya. Bapaknya pun kini lebih suka bertanya karena dia tahu kesalahan utama para orang tua adalah selalu mendikte dan menganggap dirinya tahu banyak hal. Itulah yang menyebabkan negerinya ini stagnan hanya melakukan sesuatu yang sama dengan yang dilakukan generasi sebelumnya. Tidak ada keberanian untuk keluar dari lingkaran setan.
“Iya pa, aku mau kesana.”
“Oh.. papa belum pernah ke sana sih, mau papa bantu? Kalau kamu mau nanti papa carikan orang yang pernah kesana buat kita tanya-tanya ya.”
“Asik.. asik.. Eh tapi itu kan di luar negeri, papa pernah ke luar neger?”
“Iya cuma beberapa kali, do you mind if I use english to talk to you every week? Mau nggak kalau kita bicara pakai bahasa inggris tiap minggu? Biar bisa ke tempat yang di film itu.”
“Hmmm… yah tapi kan aku masih belum lancar pakai bahasa inggris yah. Orang Bu Gurunya aja kadang ngajarinnya masih pake bahasa indonesia”
“Loh.. papa juga masih belajar kok. Papa juga masih belajar kok, yuk belajar bareng-bareng”
“Asiikk.. iya pa. Eh itu binatangnya namanya apa pa?” sambil nunjuk ke arah komputer, masih dalam film dokumenter yang samba.
“Oh.. itu impala. Tu kan naratornya bilang ‘The impala has speed’ maksudnya impala itu larinya kenceng banget”
*percakapan akhir pekan terus berlangsung, dengan cuaca di luar yang sangat ekstrim karena perubahan suhu global*
Yap hari Jumat ini gue dateng lebih pagi dari biasanya karena mau ada project meeting sama Mr. Tan, Robert Qin, Yi Shiean, dan tiga orang lainnya yang gue belum pernah ketemu. Jadi, yang gue kerjain ternyata bagian dari project yang cukup besar dan melibatkan banyak orang. Masing-masing orang mengerjakan bagian developing aplikasi di platform yang berbeda di tiap-tiap orangnya, kecuali satu orang yang jadi desainer untuk semua aplikasi.
Okay.. setelah semuanya kumpul langsung mendiskusikan projectnya yang kayaknya gue nggak akan cerita banyak di sini intinya yaitu tentang “Cloud Commerce” *sok-sok main rahasia-rahasiaan, hahaha…*
Yang gue kagum ternyata semuanya anak IS. Lima orang partner gue anak IS semua. Empat orang coding, dan satu orang desainer. Cukup wow.. karena yang gue tau kalau di Fasilkom sangat jarang anak IS yang MAU coding. Ingat MAU lho ya bukan nggak bisa. Karena temen-temen yang satu project sama gue ini juga nggak jago-jago amat cuman MAU belajar. Bahkan ada cewek yang bela-belain pinjem buku PHP & MySql segede bantal buat bikin aplikasi facebook yang merupakan bagian dari project ini. Cukup salut ama kerja kerasnya.
Yap, sehabis meeting lanjut ngoprek-ngoprek bagian gue. Break sholat jumat di masjid sebelah dan dilanjutin ngoprek-ngoprek lagi dan gue menemukan beberapa masalah yang membuat belum bisa lanjut ke tahap ngembangin aplikasinya. Terus diskusi ama Mr. Tan buat nyariin solusinya. Haha… maaf banget ini gue kebanyakan nanya. XD
Yap sebelum maghrib gue udah cabut, karena mau ke Sentosa Island bareng kak Rachmat sama si Rezqi buat nonton Song of the sea. Buat nyeberang ke Sentosa Island-nya kami memilih jalan instead of naik Sky Train karena lebih murah dan bisa menikmati banyak pemandangan. :D
Pertunjukan Song of the Sea ini kerena parah. Coba cari-cari aja videonya di youtube atau http://www.youtube.com/watch?v=RwSzC2sSJBU&feature=related. Ini tuh bener-bener keren parah dari sisi teknologi, drama, konsep budaya itu semuanya keren. Nggak rugi lah nonton ini. Di Sentosa Island juga jalan-jalan ke ke tempat-tempat yang lain dan sempat nonton pertunjukan Lake of Dream, tapi karena nontonnya habis nonton Song of the Sea jadi kurang nampol. Haha…
Hari kesepuluh hari Kamis kemarin gue berangkat lebih awal dari biasanya. Jadi gue keluar flat duluan dibanding Kak Rachmat. Emang sih sebenernya nggak ada jam kerja khusus di lab tapi beberapa hari ini gue penasaran paling pagi pada berangkat jam berapa, atau mungkin ada yang nginep di lab karena gue liat ada yang bawa bantal, selimut, pemanggang roti, dll ke lab. Hahaha..
Yap sampai lab sekitar masih belum jam 9 kalau nggak salah. Pas masuk loh, masih gelap lampu belum dinyalain. Hanya ada satu baris di barisan samping komputer gue yang lampunya udah nyala. Ada satu orang bertampang India di situ. Terus gue bingung kan nyalain lampu di barisan lorong gue ya mana saklarnya. Gue tanya ke orang India itu sekalian kenalan. Astaga… bahkan sampai sekarang udah beberapa hari ke lab masih ada orang-orang yang belum gue ajak kenalan. Karena moment-nya selalu nggak pas, dan kadang orangnya lagi sibuk jadi takut ngeganggu. Oh iya ternyata orangnya namanya Shatti dan dia PhD candidate di NUS, ho.. sangat sulit menemukan anak undergraduates di lab ini kayak gue ini. Haha.. Kebanyakan mahasiswa S2 atau S3 gitu.
Yap hari itu seharian masih sama ngurusin dan nyari-nyari solusi buat permasalahan yang masih stag dari kemarin-kemarin. Break sholat doang paling. Makan pun nggak karena kebetulan hari itu lagi puasa.
Malemnya sebenernya mau ketemu si Rezqi yang baru dateng dari Indonesia tapi nggak sempet karena udah keburu malem dan belum makan. Haha..
Yah.. btw gue masih penasaran sih ini si Shatti dateng jam berapa. Karena sampai sekarang gue belum pernah dateng lebih awal dari dia. Haha..
Yap, ini udah kayak slogan yang dicanangkan pemkot Depok. Dan itu pas hari Rabu pula. Hahaha… Iya sebenernya nggak sengaja juga sih nggak makan nasi seharian. Jadi pas paginya sebelum berangkat ke kampus naik MRT, gue ama kak Rachmat makan di dekat stasiunnya. Gue makan “breakfast set” yaitu roti, kopi, dan 2 telor setengah mateng. Harganya cukup S$ 1.8 saja. Haha.. Cukup murah daripada di toko sebelah. Sebenernya alasan lain juga makan breakfast set ini karena makanan-makanan lainnya nggak jelas halal atau nggaknya. Haha..
Yap, berangkat ke kampus langsung ke lab dan berkutat dengan mempelajari beberapa hal dan nyobain beberapa dasar-dasar yang nanti dipake buat bikin aplikasi yang jadi project gue. Ada satu hal yang bikin stag dan jadi kepikiran terus. Break cuma pas sholat dhuhur sama ashar doang. Bahkan makan siang pun terlewatkan, eh tapi emang seringnya di sini makan dua kali sehari doang sih. Pas ditengah-tengah ngerjain ada yang nyamperin, dia nawarin coklat katanya dia dari lab sebelah yang baru pulang dari Perancis namanya Lei Mi kalau ga salah (spelling-nya lagi-lagi gue ga tau). Astaga, baik banget padahal kan belum kenal sebelumnya. Haha.. pas gue ambil agak ragu juga makannya halal apa nggak. Haha.. Ya udah gue letakkin dulu di meja coklatnya.
Dan… sampai sore pun gue belum makan masih stag kepikiran terus ama kerjaan gue. akhirnya menjelang maghrib sekitar pukul 19.00 gue keluar nyari makan. Sampai sana niatnya mau beli yang di counter Indonesian Panggang tapi ternyata udah sold out, ya udah gue udah ke counter sampingnya ehhh…. ternyata cuma ada egg *apaa… gitu lupa namanya* masakan India gitu. Ya udah nih gue cuma makan telor itu haha… Lumayan sih buat ngeganjel perut. Terus malemnya pulang ke Sembawang mau beli makanan buat sahur untuk puasa hari Kamisnya. Mau test case nyobain sahur pertama kali di sini. Maksudnya mau nyobain basi atau nggak makanannya kalau beli pas malemnya. Niatnya sih mau beli nasi sama ayam eh.. ternyata cuma ada nasi goreng *yang gue agak nggak yakin bisa tahan buat dimakan pas sahur*. Akhirnya gue beli bee hoon sama ayam. Terus pulang dan dalam hati *lah ini besok sahur nggak pake nasi juga nih hahaha… *
Hari Selasa, tanggal 26 Juni kemarin bangun-bangun nggak langsung ke kampus di NUS. Jadi hari itu harus ngurus TEP (Training Employment Pass) ke MoM (Ministry of Manpower). Appointment-nya sekitar jam 11.45 WIB kalau ga salah. Terus dari flat yang di Sembawang, gue naik MRT. Sampai sana ada self check in di mesin secara otomatis gitu hanya dengan men-scan barcode appointment-nya.
Sampai sana gue harus nunggu di Service Lobby. Ya udah gue nunggu dong sampai agak lama, eh kok nggak ada nama gue di layar. Dan ternyataaa… setelah gue nanya ke petugas, gue salah tempat karena Service Lobby itu ada di ruangan sebelahnya. Hahaha… pantes aja mau sampai kantornya tutup juga nggak bakal dipanggil-panggil.
Ok, singkat kata selesai urusan TEP (dan harus diambil hari ini sebenernya tapi akhirnya besok Senin ngambil kartu TEP-nya). Terus gue langsung berangkat ke lab siangnya dan ternyata dapet email gue udah bisa ngambil PC buat ditempatin di meja gue. Saat gue ngambil PC, gue agak kaget sih ternyata gue haru bawa semua PC dan pernak-perniknya sendiri dari Technical Services ke lab gue di Information Systems Research Lab 1 di COM1. Pake troli gitu ngedorong-dorong dan tiap ketemu pintu agak kesusahan. Hahaha…
Yap sampai lah di lab. Dan you know what, sebenernya ini gue pertama kalinya masang-masang komputer (nyambung-nyambungin kabel dsb) sendirian. Cukup aneh memang untuk seorang mahasiswa IT, hahaha… Ya udah lah, prinsip gue semua kabel terpakai (termasuk kabel LAN, dll-nya). Udah dong, gue pasang semuanya terus gue hidupin, ternyata koneksi internet-nya nggak bisa haha… Akhirnya gue minta nanya ke orang di lab di dua baris ke belakang karena waktu itu lab lagi sepi. Namanya kalau ga salah cheng chin (spelling tulisannya gue ga tau sih). Kata dia sih ternyata karena gue baru di situ harus ngedaftarin dulu PC-nya biar bisa internetan. Haha…
Walhasil gue ke Technical Serrvices dan katanya sih harus nunggu approval Prof. Teo. Dan bahkan sampai sekarang gue belum bisa ngenet pake PC (sementara beberapa hari ini pake laptop dulu).
Kayaknya postingan yang ini nggak terlalu penting sih, tapi ya sudah lah. *cuma buat dokumentasi pribadi aja*
Berangkat pagi seperti biasa. Langsung ke Information Systems Research Lab 1. Buka laptop, belajar google gadget sama javascript. Install google plugin di eclipse (tapi akhirnya karena nggak kelar-kelar gue close).
Labnya yang di satu barisan gue itu sepi. Satu baris di dekat gue ada dua orang dan agak jauh. Keliatannya lagi sibuk juga, pengen ngajak ngobrol nggak enak. Bahkan belum sempet kenalan. Sama (yang kayaknya) orang India di belakang gue juga belum. Gue kira si Robert Qin hari ini udah pindah ke samping gue ternyata belum. Dia masih di IS Research Lab 2 bareng si Yi Shiean.
Terus gue nyoba-nyoba tutorial-tutorial yang gue dapet hasil googling dan juga nyoba cloud commerce API yang dikasih Mr. Tan. Daaan… ini yang bikin stag. Gue coba nggak bisa-bisa. Sampai manggil si Robert ke tempat gue. Eh.. ternyata dia juga belum ngerjain yang project ini, karena dia masih harus ngerjain project yang lain.
Sampai habis maghrib gue masih di lab. Ya udah gue kirim email nanya-nanya ke Mr. Tan sama minta dikenalin ke developer lain yg masih satu project dan kerjaannya mirip-mirip tapi di platform yang beda. Soalnya yang anak internnya Prof. Teo yang gue tau cuma dua orang. Satu orang belum ngerjain. Satu orang lagi desainer. Dan.. jam 8 malem gue cabut. Di situ masih ada beberapa orang. Gue nggak tau ada yang nginep mungkin. Soalnya ada yang bawa bantal. Haha…
Sekian. Besok harus solve.
Hari keenam itu kemarin. Hari Minggu. Agenda sebenernya nggak padat-padat ama. Tapi udah cabut dari flat jam 9.30-an. Pulangnya jam 6-an sore. Pagi-pagi nya ada acara ke KBRI. Padahal hari sebelumnya juga habis dari KBRI yang acara seminar bisnis, karir, dan kepemimpinan itu.
Nah kalau yang hari minggunya itu adalah ada acara pengajian di Masjid Istiqomah KBRI diselenggarakan oleh Indonesian Muslim Association Singapore. Datang kesana ternyata acaranya udah dimulai tetapi baru pembukaan.
Tapi bener-bener ngerasa beruntung banget datang acara ini. Pembicaranya keren. Tiga orang anaknya juga keren-keren semua. Namanya ibu Septi Peni Wulandari (@septipw). Temanya itu tentang passion dan mendidik anak. Dan konsep pendidikan anak yang dia bawa bener-bener berani tampil beda. Bagaimana konsep menyamakan misi antara keluarga.
Ok. Sebenernya untuk materinya sendiri udah agak lupa runtutannya. Yang gue inget, ibu Peni ini punya 3 orang anak dan dari kecil udah fokus ke satu hal saja. Anak yang paling kecil (sekitar SD) udah fokus ke robotik. Ada juga yang fokus ke pengolahan sampah. Yang satu lagi lupa. Konsepnya dia ada rumah itu sekolah utama. Jadi kalau anak ke sekolah, itu artinya ada tugas belajar. Dan saat pulang ke rumah itu artinya kembali ke sekolah utamanya.
Dan konsep yang diajarkannya ada konsep padepokan atau school of life dengan beberapa tingkatan. Jadi dari kecil udah ditentuin mau jadi apa. Nah orang tuanya belajar dan ngajarin hal itu, nyariin mentor, nyariin pakar-pakar dalam bidang yang sesuai untuk diskusi dengan anaknya, dll.
Oh iya Bu Septi ini sempat bekerja namun memilih berhenti dan menargetkan selama 4 tahun tiap harinya khusus dialokasikan waktu 8 jam untuk belajar mendidik anak. Dari buku-buku, silaturahmi ke orang lain, nanya-nanya orang, berdiskusi dengan pakar, dll. Dan sebenernya masih banyaaak… banget yang membuat gue terpukau. Dari yang anaknya ada yang umur 14 tahun udah di lepas sendirian buat belajar di Singapura, terus ada yang mau menikah umur 18 tahun dan dari kecil udah mempersiapkan, yang memilih nggak sekolah formal, dll.
Oh iya pas sesi tanya jawab gue juga sempet nanya. Sebelum nanya disuruh memperkenalkan diri dulu. Gue perkenalannya sih cuma nama Luqman Syauqi sama bilangnya masih mahasiswa S1. Salah satu yang gue tanyain itu kesalahan umum para orang-tua. Beliau menjawab, kesalahan umum para orang tua itu adalah menggurui anak, lebih sering menjawab dibanding bertanya pada anak, teruss.. apalagi ya. Bahkan gue yang tanya aja lupa. Haha…. Kalau ga salah orang tua terlalu sering mengajari/ mengambil alih pekerjaan anak dibandingkan membiarkan anak belajar melakukan sendiri.
Ok. Sebenernya ceramahnya cukup panjang dan masih banyak yang lain. Oh iya di acara ini akhirnya ketemu kak Rully Prasetya juga. Pas acaranya ditutup gue mendekat ke seseorang.
“Kak Rully Prasetya ya?”
“Iya iya..”
“Saya Luqman Syauqi kak yang beberapa bulan lalu sempet nanya-nanya housing”
“Oh.. iya pantesan tadi pas nanya kayak pernah inget gitu nama Luqman Syauqi”
*terus ngobrol agak lama*
Ketemu lagi orang.
“Mas, tadi mahasiswa S1 ya. Kuliahnya di mana?”
“Oh iya. Saya sebenarnya mahasiswa UI sih. Cuman lagi ada short term program 3 bulan buat riset di NUS”
“Kalau mas, kuliah di mana? Siapa namanya mas?”
“Saya Yudho. Teknik elektro di NTU”
“Oh.. kenal si Bening”
“Oh iya iya… Itu tadi Bening ada kok di belakang”
*terus nanya-nanya tentang NTU*
“Oh.. dulu ikut olimpiade gitu ya? Biasanya anak NTU dulunya ikut olimpiade”
“Oh iya.. dulu saya astronomi sih olimpiadenya”
“Oh.. kenal si Sulis ya?”
“Oh iya dia satu angkatan di atas”
“Tapi sempet satu pelatihan nggak”
“Iya sempet satu pelatihan sih”
“Iya saya satu SMA sama Sulis”
“Oh… Kebumen. Ngapak-ngapak ya. ‘Enyong kencot’”
“Hahaha… Iya iya. Mas aslinya mana?”
“Oh… kalau saya Solo”
*dan pembicaraan pun masih berlanjut*
Dan juga ketemu kak Levi. Ilmu komputer NTU 07. Udah lulus dan kerja di IBM Singapura, dan mau lanjut ke master di NUS. Mantap!!!
Setelah acara saung istiqomah ini, kemarin gue nggak langsung pulang tapi jalan-jalan dulu ke Marina Bay sama ke Merlion Park. Bahkan sempet pas nyari-nyari Merlion malah didatengin satu pasangan.
“I’m sorry sir. Where is merlion?”
“Merlion?”
“Yes. Merlion. Statue, a lion.”
“I’m sorry Sir. I don’t know. I’m still new here”
Haha… gue juga lagi nyari-nyari ini. Sambil jalan-jalan menyusuri Marina Bay.
Pas ketemu ternyata patung merlion yang gedenya itu lagi direnov. Ditutupin jaring biru gitu. Hahaha….
Udah pegel kaki puas jalan-jalan, akhirnya gue memutuskan pulang naik MRT dan mampir makan dulu. Bee hoon, telor, dan ice lemon tea. Bihun sama telornya sih cuma 1,6 SGD tapi lemon tea-nya 1,5 SGD. Hahaha.. Nggak apa2 lah baru makan sekali juga, pagi-paginya. XD
Hari Sabtu kemarin memang agak santai daripada hari-hari sebelumnya karena itu hari libur dan tidak ada kewajiban ke kampus. Dari pagi hanya browsing memanfaatkan internet di kamar yang disewa selama dua minggu ini. Bahkan sempat download beberapa video tentang belajar bahasa mandarin. Haha… Entahlah gue merasa perlu belajar bahasa ini secara banyak banget orang-orang disini yang ngomong pake bahasa mandarin.
Lanjut cari makan di sekitar Montreal Drive (makan pagi sekaligus makan siang karena udah agak siang). Oh iya… entah kenapa akhir-akhir ini semenjak di sini nggak terlalu bernafsu untuk makan. Entah ada yang salah dengan nafsu makan gue atau makanan di sini yang kurang cocok.
Siangnya gue nyempetin untuk tidur siang. Jarang-jarang nih bisa tidur siang begini. Itu-itu cooling down sebelum nanti Seninnya mulai berkutat dengan javascript, google gadget, e-commerce, cloud computing, dll. Sekitar jam 2-an gue sama kak Rachmat yang satu flat dan juga orang Indonesia siap-siap berangkat ke KBRI. Hari itu ada acara “Kopi Sore” di kedutaan bertema “Karir, Bisnis, dan Kepemimpinan” dengan pembicara yang oke yaitu Bu Beti Alisyahbana dan Pak Mulyohandoko. Acara tersebut diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB Singapura tetapi acaranya terbuka untuk umum.
Naik MRT dari Sembawang ke Sommerset. Dari Sommerset naik bus 111 terus turun dan jalan beberapa ratus meter. Sampai KBRI berkenalan dengan beberapa orang Indonesia lain yang juga tinggal di Singapura. Kebanyakan yang datang di acara itu sih udah kerja. Oh iya acaranya berlangsung sangat menarik. Bener-bener nggak rugi gue dateng ke acaranya. Banyak diingatkan lagi dengan beberapa hal. Makna hidup, perencanaan, serta melakukan yang terbaik saat ini. Acaranya berlangsung sampai jam 7. Setelah itu gue sholat maghrib dulu di masjid KBRI. Iya di sini memang maghribnya jam 7-an karena waktunya satu jam lebih cepat dari Indonesia.
Kemudian pulangnya gue nggak langsung ke Sembawang, tetapi berhenti di Yio Chu Kang. Sementara kak Rachmat, teman seperrjalanan gue, langsung pulang ke Sembawang. Gue ke Yio Chu Kang itu sebenernya mau viewing housing yang nantinya bakal gue tempatin setelah tanggal 1 juli. Pas sampai MRT Yio Chu Kang sekitar jam 9-an ternyata orangnya masih di Harbour Front ngejemput istrinya yang lagi dateng ke Indonesia. Ya udah gue tunggu duduk-duduk di depan stasiun MRT-nya. Cukup lama sih nunggunya sampai entah udah berapa taksi yang ngetem di depan.
Akhirnya sekitar pukul 10 kurang orangnya dateng. Dia orang Indonesia juga, orang Padang juga. Dan sudah bekerja cukup lama di Singapura. Kemudian kami berjalan menuju rumahnya tepatnya di Ang Mong Kio Ave 4 nomor bloknya gue lupa, hahaha…. Cukup jauh memang, tapi masih acceptable buat gue yang pas di Depok sering jalan kaki ke kosan. Dari Fasilkom ke kute, ke kosan yang jaraknya kayak ke Alfamart kutek yang cukup jauh. Jadi ini buat gue ini masih nggak ada apa-apanya. Hahaha.. *belagu banget gue ya
Di perjalanan itu gue diajak ngobrol banyak hal. Senang rasanya. Berbicara tentang kuliah gue, karir, dan wirausaha. Entah udah berapa petuah sampai akhirnya sampai juga kita di rumahnya di lantai 13. Rumahnya kecil memang dan hanya ada 2 kamar tidur serta diisi oleh 4 orang. Mungkin 5 orang nanti kalau temen gue juga mau nginep disitu. Dan memang masih jauh lebih bagus housing gue yang sekarang ini di Sembawang.
Udah setelah mikir-mikir dan juga udah males nyari-nyari lagi karena pengin fokus ke riset gue akhirnya gue setuju untuk tinggal disitu. Terus pulangnlah gue, berjalan dari rumah itu ke stasiun MRT Yio Chu Kang. Daaann… gue sempet nyasar karena udah malem dan mata udah ngantuk. Seperti biasa kalau bingung jalan gue ke halte terdekat dan liat peta di situ. Tetapi ternyata di halte yang satu ini petanya nggak ada. Hanya ada rute dan jadwal bis yang lewat. Ya udah akhirnya gue nanya ke ibu-ibu yang duduk di halte itu.
“Excuse me, where is Yio Chu Kang MRT station?”
”#$*^&^%$$#^&*#*” *gue agak lupa ngomong apa kayaknya pakai bahasa mandarin, tapi tangannya nunjuk-nunjuk suatu arah yang menandakan gue harus lurus terus sampai ketemu MRT
“Oh.. so it’s over there?” Sambil nunjuk arah yang dimaksud
“Yahh.. I think so” kata ibu-ibunnya
“Ok ok. Thank you mom”
Akhirnya gue ngikutin petunjuknya si ibu-ibu tadi dan ketemulah MRT Yio Chu Kang dan gue pun naik MRT sampai stasiun Sembawang. Sampai situ udah jam 11-an malem dan gue pun nyari makan dulu karena baru makan tadi pagi. Tapi ya tetep anehnya gue nggak terlalu bernafsu makan walaupun perut udah laper. Alhasil nasi lemat set A yang gue beli seharga S$ 2 itu nggak habis. Hmm… Jadi merasa bersalah nggak ngehabisin makanan.
Ok sekarang udah jam setengah 9 pagi saatnya bersiap-siap ke KBRI lagi karena ada pengajian bulanan di Masjid Istiqomah yang ada di KBRI. Itung-itung siraman rohani, siapa tau dapet snack juga. #eh
Okay, sebenernya udah ada tulisan tentang hari kedua, ketiga, dan keempat. Tapi malah yang hari pertamanya belum ditulis. Haha…
Ok. Hari itu hari Selasa 19 Mei 2012 pertama kalinya gue naik pesawat *norak*. Pertama kalinya gue ke luar negeri, dan juga tentunya pertama kalinya gue ke Singapore. Dan berangkat sendiri. Hahaha…
Pagi-pagi nya tante gue nganterin ke bandara, makan bentar terus langsung pamitan. Ok, terus gue ngantri dong karena buat naruh bagasi. Eh ternyata pas sampai depan gue salah antrian. Wkwkwk… Ternyata itu antrian buat penerbangan domestik. Ya udah akhirnya gue ke antrian yang penerbangan internasional buat naruh barang di bagasi. Bawaan gue cuma satu koper sama satu tas gendong. Tapi yang gue taruh di bagasi cuma kopernya.
Ok, pas selesai naruh bagasi tante gue nelpon. Ternyata dia masih di bandara di musholanya. Hahaha… Wah, agak fail pamit-pamitan yang tadi. Ya udah gue ke mushola sholat dhuhur sekalian ashar. Habis itu pamitan lagi untuk yang kedua kalinya, dan habis itu baru tante gue bener-bener pulang.
Sementara itu HP gue terus bergetar karena beberapa SMS beruntun yang masuk. Gue mau masuk ruang tunggu pesawat, tapi ternyata kecepetan karena pesawatnya juga delay satu jam. Alhasil gue ke bawah nyari colokan di bandara buat ngecharge HP. Ngeliatin HP, balesin beberapa SMS. Terus ke mushola lagi wudhu, dan menenangkan pikiran dengan baca-baca quran di HP.
Waktu terus berlalu, kayaknya udah hampir jam setengah tiga sore gue naik ke atas lagi dan ngantri buat ke ruang tunggu pesawat. Yap, sekitar jam tiga pesawat (dengan nomor penerbangan kalau ga salah QZ 7788) pun datang.
Oke saatnya terbaaang. Ternyata nggak seseram yang dibayangkan. Sampai di atas agak ngerasa salah milih tempat duduk dikelilingi orang-orang melayu yang berisik banget. Hahaha… Untung ternetralisir dengan suara anak kecil yang lucu (yang kadang ngomong bahasa inggris, kadang mandarin) di bagian belakang.
Pokoknya tau-tau udah sampai bandara Changi gitu kan. Di sana sempat lamaaaa banget karena nungguin koper gue yang nggak muncul-muncul. Dan ternyata saudara-saudara… gue salah tempat nungguinnya. Haha… Ya udah dapet tuh koper, terus nyari-nyari stasiun MRT. Udah nyari-nyari nggak ketemu akhirnya nanya juga kan ke petugas bandara.
“Excuse me, where is an MRT station?”
“MRT Station. In terminal 2 …. bla bla bla *ngasih direction ke gue”
Kemudian gue pergi dan petugasnya berguman. “MRT Station, it’s common question” Hahaha… pasti udah saking banyaknya orang yang nanya letak stasiun MRT.
Yap buat ke terminal 2, gue harus naik skytrain. Dan agak bingung ini gratis atau ga. Sempet nanya ke orang di sebelah
“Is it free”
“Ya ya it’s free”
“It’s going to terminal 2 right?”
“It’s already terminal 2. Oh no no no, it’s terminal 1. Yes we’re going to terminal 2”
“Ok, thank you Sir”
Yap. Sampailah di terminal 2, langsung menuju MRT station dan nyari tempat jual Ezlink Card buat masuk ke stasiunnya. Di depan gue ada ibu-ibu kulit kuning langsat bermata sipit lagi beli tiket. Agak lama, ngomong beberapa kalimat dengan petugas penjual Ezlink Card-nya. Dan tiba-tiba ngomong ke anak di sampai “Ngomong opo to iki ora jelas”. Haha.. ternyata orang jawa. Si anak tadi langsung nyamperin ke loket. Ibu-ibu itu langsung berkata
“Oh… ten cent. Ha wong, ket mau ngomonge senten senten opooo malah jebule ten cent”
Ok, giliran gue beli Ezlink Cardnya beli S$12 (ini udah ada isinya 5 atau 7 dollar kalau ga salah) sama sekalian top up S$20.
Yap.. naiklah gue ke MRT dan lumayan enak ternyata. Segala petunjuk di stasiun terpampang jelas. Di dalam kereta pun petunjuknya juga jelas.
Sampai lah gue di Stasiun Sembawang, di situ sudah ada Kak Rachmat ngejemput gue nganterin ke kamar yang gue sewa. Hmmm… Ada kejadian menarik pas beli makan. Pas beli makan nasi lemak buat dibungkus ada sedikit salah paham yang jadinya gue beli dua bungkus. Hahaha… Ini soalnya gue diajaknya ngomong pake bahasa melayu. Dan kata-kata yang gue nggak ngerti dan main ya ya aja. Haha… Fail banget ini, hari-hari selanjutnya gue menghindari ngobrol pake bahasa melayu tetapi pake bahasa inggris (walaupun sedikit belepotan) but it works dan nggak ada kesalah pahaman. Haha..
The first step is the hardest part
Yap.. hari ini adalah hari keempat gue di Singapore dalam rangka internship sebagai research assistant di School of Computing, NUS. Jadi kemarin itu gue disuruh ketem Prof Teo siang-siang. Gue belum tahu sih tepatnya jam berapa. Ya udah dari pagi gue berangkat bareng kak Rachmat yang udah lebih dulu internship di situ tapi ama profesor yang beda dan tentunya project yang beda juga.
Kak Rachmat bilang “Lah bukannya hari ini hari Jumat, ntar sholat Jumat lho terus lo gimana ntar ketemunya”. Terus ya udah karena kemarin udah dikasih nomer hapenya Mr. Tan gue SMS bilang kalau gue ada friday prayer di masjid dekat NUS hari ini jam 1 sampai jam 2 siang. Terus Mr. Tan-nya bilang ketemunya jam 3 aja.
Okay. Case solved. Terus sampai NUS awalnya niatnya mau ke lab IS 2, tapi nggak jadi karena di sana gue belum ada tempat juga. Yang ada nanti malah mati gaya lagi kayak hari sebelumnya. Haha…
Ya udah gue duduk-duduk di dekat Central Library-nya buka laptop. Terus nyoba cek email via HP (karena gue belum bisa ngenet via laptop), dan ternyata yeay… gue udah dikasih akun buat akses internetnya (NUSNET ID). Langsung deh gue ngenet. Oh iya hari ini gue juga sebelum berangkat sempet browsing-browsing nyari penginapan karena yang di tempat sekarang cuma shortterm sampai 1 juli aja, karena dari tanggal 1 juli udah ada yang nempatin.
Sebelum berangkat sempet kirim email sama SMS beberapa orang yang ngiklanin tempat tinggal, tapi hanya 1 yang respon dan cukup bagus responnya. Sebenernya awalnya gue mau bareng sama orang (alumni ITB yang kerja di sini), tapi orangnya juga belum nemu-nemu yang cocok dan dia ga suka yang terlalu jauh dari tempat kerjanya dia. Jadi mungkin agak susah sih kalau tetep mau bareng.
Ok.. waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat. Saatnya ke masjid yang dekat NUS itu bareng kak Rachmat. Ternyata khutbahnya di situ pakai bahasa melayu, padahal gue liat kayaknya nggak semua orang yang dateng bisa bahasa melayu. Haha..
Setelah selesai sholat Jumat, gue nongkrong lagi di gedung COM1 mau ngirim email ke Prof Teo nanyain ketemuannya di mana. Nggak dibales. SMS ke Mr Tan juga belum dibales juga.
Ya udah gue SMS si Robert, akhirnya dianterin ama dia ke ruangannya Prof Teo. Setelah sebelumnya sempet gue telpon (dikasih nomernya dari Robert) tapi nggak ada jawaban. Yap menuju ke gedung COM2 di lantai 2 luruuuss terus sampai mentok. Eh ternyata Prof Teo nya nggak ada. Dan ternyata Prof Teo itu punya dua ruangan karena dia Head of Information Systems Department. Yang satu ruangan sebagai ketua prodi, yang satu ruangan akademiknya. Dan ibu-ibu yang disampingnya akhirnya berbaik hati nganterin gue ke ruangan akademik nya di lantai 4. Si Robert pun balik lagi ke labnya.
Si ibu-ibu ini luar biasa. Dia bilang “Actually there is a lift over there” *sambil nunjukin liftnya* “But, I usually use stairs”. Luar biasaa…!!
Sambil naik tangga, diajak ngobrol sana sini. Terus sampailah di ruangannya. Prof Teo langsung bilang “Oh you Luqman ya? Please sit here laah!” Kira-kira kayak gitu kalau nggak salah dengan logat Singlish-nya yang kental.
Udah sampai di situ ternyata gue di SMS Mr Tan, kalau suruh ke ruangannya dia dulu biar bareng-bareng ke ruangannya Prof Teo. What? Gue udah di ruangannya gimana dong? Haha… Dan SMS berikutnya bilang kalau meeting-nya ditunda sampa 3.30. Haha… Gue udah terlanjur di dalem ruangannya Prof Teo.
Terus mulai deh di sini ngebicarain project-nya, kemudian Prof Teo-nya nelpon Mr. Tan bilang “Luqman is in my office now. Yaah.. he comes early. Come here now”. Terus Mr. Tan-nya dateng dan mulai deh briefing tentang kerjaan gue sekilas. Terus setelah itu gue dibawa ke ruangan meeting sama Mr Tan, mau ngasih briefing yang lebih lengkap pakai laptop & LCD.
Mr. Tan kemudian ngasih tunjuk beberapa website ngobrol panjang lebar tentang deskripsi projectnya. Kemudian ngasih slide tentang gambaran besar projectnya dan ngasih tau bagian gue yang mana.
Terus pas sampai bagian nama-nama orang yang ngerjain ternyata udah ada nama gue di situ beserta deskripsi. Dan juga nama-nama lain yang juga ngerjain part yang berbeda dalam satu project itu. Terpampang juga disitu nama Tan Yi Shiean dan Qin *gue lupa belakangnya apa*. Itulah mengapa kayaknya mereka berdua langsung ngenalin gue kemarin pas di lab. Haha…
Kalau si Robert Qin ini ternyata ngedevelop program di iPhone, kaau gue bikin google gadget nya. Dan si Yi Shiean ternyata dia designer dari semua project. Hahaha…
Terus, setelah selesai briefing yang cukup lama. Gue dianter Mr Tan ke lab IS2 buat manggil si Robert. Terus ke lab IS1 disitu ditunjukin tempat gue nanti dan tempatnya Robert biar bisa berdiskusi nantinya. Mulai Senin nanti, si Robert pindah ke lab 1 dan Yi Shiean jadi sendirian di lab 2. Haha…
Ok project telah di-run dan saatnya mempelajari & memulai. Semoga bisa berjalan lancar, dan kalau bisa jangan sampai ngoding di MRT saking hecticnya. *soalnya kemarin-kemarin ngeliat anak bawa laptop ke MRT dengan kondisi nyala, terbuka dan anaknya berdiri. Hahaha… XD
OOT: btw kalau di MRT kebanyakan pasti orang2nya: baca koran, baca buku, mainan iPad (baca, main game, nonton), ngedengerin musik, main game di HP, nonton di HP, dan semacamnya.
Hari ketiga itu… kemarin ya. Iya jadi kan karena seperti yang diceritakan di hari kedua, si Mark (koordinator undergraduate internship) itu kan lagi pergi. Ya udah gue disuruh mark nemuin yang lain aja yaitu Irenne.
Pagi-paginya setelah naik MRT seperti biasanya, gue langsung ke gedung COM1 lantai 3 yaitu ruang dekanat. Di situ agak fail juga sih spelling nama ibu-ibunya yang harusnya “ai rin” malah jadi “i rein”. Hahaha… tapi untung ibu-ibunya baik. Bahasa Inggrisnya pun pelan jadi gampang dimengerti. Ya udah akhirnya gue dikasih segala macem dokumen salah satunya akun email @comp.nus.edu.sg.
Terus setelah itu gue dibawa ke labnya. Oh ya harusnya gue dibawa ke profesor gue (Prof Teo) tapi beliau lagi sibuk. Nah sampai masuk lab IS 1 kata orang yang disitu suruh ke lab IS 2 karena lab IS 1 itu katanya “noisy” suara mesin dan printer. Dan juga di suruh ke lab IS 2 karena 2 anak intern Prof Teo lainnya ada di lab itu juga.
Setelah masuk ke lab IS 2 ternyata belum ada tempat buat gue jadi gue disuruh duduk temporary di salah satu tempat setelah ibu-ibu yang nganterin gue ngobrol *yang gue ga tau apaan karena pakai bahasa mandarin* dengan salah dua orang penghuni lab di situ.
Dan pas banget setelah ibu-ibu itu bilang gue ini intern-nya Prof Teo terus langsung deh ada dua orang cowok cewek yang langsung ngenalin gue. Gue bingung ternyata mereka juga anak intern-nya Prof Teo dan langsung tau gue. Dua orang itu Yi Shiean sama Robert Qin. Si Robert Qin langsung bilang “You will do a technical side right?”. Gue bilang “Hmm… I think so but I still don’t have a briefing from Prof Teo”. Si Robert bilang “Yes, you will be in the same project with me but different project with her” *sambil ngelirik Yie Shiean.
“Yes maybe not now but I think we will work together later” kata Yie Shiean.
“I’m sorry what’s your name?”
“I’m Robert”
“Yi Shiean”
“But usually she is called Shelly”
“Hi.. no no no!”
Ok sesi perkenalan ama dua anak ini selesai. Terus gue duduk nggak tau mau ngapain karena suruh nunggu Prof Teo. Buka laptop terus mau coba dikonekin kok ga bisa ya? Mulai deh mati gaya, terus coba baca-baca reading material tentang Google Gadget biar nggak gabut gabut amat. Terus sesekali nyoba konekin internet lagi pake akun @comp.nus.edu.sg tadi. Terus setelah dicoba-coba terus tetep nggak bisa, akhirnya nanya Robert.
Terus pas dia coba juga nggak bisa. Yi Shiean bilang kalau itu tuh emang nggak bisa karena akun yang dikasih itu baru akun email sama sunfire (kalau mau develop aplikasi di server). Jadi katanya emang ada dua akun. Akun yang buat ngenet itu NUSNET ID. Hmmm… ok ok. Baiklah.. *langsung berpikir kenapa nggak Single Sign On kayak UI aja ya.. haha…
Oh iya dan gue juga belum dapet Access Card di hari ketiga kemarin itu. Tapi pas hari itu juga siangnya dikasih temporary access card untuk bisa kemana-mana di wilayah NUS dan lab IS 1 serta lab IS 2.
Setelah dikasih access card, sholat bentar di perpusnya terus balik ke lab. Gue bingung make access card nya hahaha…. Ya udah gue ngintip ke pintunya pas banget keliatan si Yi Shiean suruh ngebukain. Eh pas udah dibuka Robert langsung ngajak gue ketemu Mr Tan Wee Kek. Mr Tan ini dosen dan PhD candidate muridnya Prof Teo juga, dan kayaknya juga koordinator project yang akan gue jalani (yaitu tentang cloud commerce).
Sampai di ruangannya Mr Tan ternyata orangnya ramah banget. Dia ngajak ketemuan tetapi belum mau ngomongin soal projectnya ke gue. Hanya nanya-nanya biasa. Gue tinggal di mana, saudara berapa, habis lulus mau ngapain, dan perbincangan ringan lainnya. Oh ya.. pas Mr Tan nya telpon Prof Teo, ternyata beliau lagi sibuk jadi baru bisa ditemui hari berikutnya (yaitu hari keempat tadi siang).
Setelah ngobrol-ngobrol ama Mr Tan, gue disuruh pulang dan disuruh jalan-jalan liat-liat Singapore karena dia tahu gue baru pertama kalinya ke Singapore.
Nah akhirnya gue cabut dari NUS, dan berencana ke NTU nemuin si Bening. Bening ini mahasiswa Indonesia yang kuliah di NTU jurusan kimia angkatan 2009. Gue tahu Bening dari si Rini. Makasih Rin. Hehe…
Naik MRT dari Kent Ridge ke Pioneer. Terus dari Pioneer naik shuttle bus ke NTU. Si Bening bilang kalau gue turunnya di halte ketiga pas udah masuk NTU-nya. Dan ternyataaa… Gue kelewatan satu halte. Haha… Ya udah gue jalan ke halte sebelumnya. Dann.. Ketemu juga ama si Bening.
Setelah ngobrol- ngobrol dikit sore itu makan di kantin deket asrama NTU nya. Haha.. cukup lapar karena baru makan paginya. Pesan ayam penyet lumayan mahal S$3.5 kalau nggak salah. Tapi itu termasuk murah dari pada di luar dan dengan porsi yang besar dengan dua ayam. Astagaaa… banyak banget. Gue aja sampai nggak habis.
Selesai makan, terus sholat di gedung seberangnya. Habis itu jalan-jalan di sekitar NTU dengan guide si Bening ini. Haha.. Selesai muter-muter, akhirnya gue pulang ke Sembawang naik MRT dari Pioneer lagi. Si Bening juga emang mau pergi juga naik MRT ke *ah lupa ke mana gue*